Masyarakat Banyuwangi, Punya Banyak Cara Sambut Tahun Baru Hijriah 1 Muharam

Warga Banyuwangi, Tahun Baru Hijriah satu Muharam yang bertepatan dirayakan oleh jawa Timur mempunyai tidak sedikit langkah-langkah untuk dengan 1 Suro dalam kalender Jawa.

Masyarakat Banyuwangi, Punya Banyak Cara Sambut Tahun Baru Hijriah 1 Muharam
Masyarakat Banyuwangi, Punya Banyak Cara Sambut Tahun Baru Hijriah 1 Muharam (Sumber: kompas.com)

Mereka menggelar tradisi yang kental dengan kearifan lokal dan sarap pesan moral di wilayahnya masing-masing. 1 Suro dirayakan oleh berikut aneka perayaan kegiatan masyarakat Banyuwangi saat.

1. Grebek Tumpeng Suro di Dusun Pekulo Desa Kepundungan

Walau dirayakan oleh warga sedusun, Grebek Suro di Dusun Pekulo, Desa Kepundungan, Kecamatan Srono berlangsung meriah. Ada dua puluh gunungan tumpeng yang terbuat dari beragam macam palawija dan hasil bumi yang diarak mengeliling dusun sejauh satu kilometer.

Sesudah didoakan, gunungan tumpeng itu diperebutkan oleh masyarakat untuk ‘ngalap berkah’. Sedangkan nasi dan lauk pauk yang diletakkan di ancak, wadah dari pelepah dan daun pisang langsung disantap bersama-sama oleh warga dan pengunjung di pinggir jalan kampung.

Selain di Dusun Pekulo, Grebek Tumpeng Suro juga dilakukan di sejumlah tempat lainnya seperti di Dusun Kedawung, Desa Sraten, Kecamatan Cluring yang merayakannya dengan arak-arakan seribu tumpeng dan takir serta digelar juga di Kampung Tamansari, Kecamatan Tegalsari.

2. Tradisi Sapi-sapian di Kampung Kenjo Banyuwangi

Tradisi ini muncul sejak tahun 1700-an, saat 3 orang asal Bugis membuka lahan untuk pemukiman dan pertanian. Saat bakal membajak tanah, tenaga mereka sendiri digunakan oleh mereka tidak memiliki alat untuk menarik bajak sehingga mereka memutuskan.

Satu orang memegang kendali bajak dan 2 orang menjadi sapi untuk menarik sapi. Sebab kelelahan, mereka lalu mencari binatang untuk membantu membajak sawah dan menemukan sapi liar yang lalu membantu ketiga orang itu untuk mengolah lahan pertanian.

Untuk menghargai leluhur yang mereka sebut Mbah Daeng, warga menggelar tradisi Sapi-sapian setiap 1 Suro sementara itu juga sebagai kegiatan bersih desa.

Sebutan Kenjo berasal dari kata Kunjo yang dalam bahasa Using berarti tempat air. Saat ini hampir sebagian besar masyarakat Desa Kenjo berprofesi sebagai petani. Tradisi Sapi-sapian sendiri pada tahun 2017.

3. Jamasan Pusaka di Dinas Pariwisata Banyuwangi

Setiap Tahun Baru Jawa selalu digelar jamasan pusaka di Dinas Pariwisata Banyuwangi selama seminggu berturut-turut.

Selain tersebut ada pameran ratusan pusaka mulai dari keris hingga pedang tergolong juga pusaka pusaka khas Blambangan sebagai cikal akan Kabupaten Banyuwangi, salah satunya merupakan keris Joko Suro dan pedang Luwuk.

Selama setahun tosanaji atau pusaka menyerap energi negatif pemiliknya, lantaran

“salah satu prosesi jamasan adalah mencucinya dengan bunga setaman. Setiap hari selalu ada warga yang datang ke sini untuk melakukan jamasan. Ada juga yang sekadar melihat dan belajar sejarah tentang pusaka,” kata Ilham.

Tanggal satu Suro dipilih untuk melakukan jamasan karena tahun baru menjadi ajang yang tepat untuk memulai sesuatu yang baik.

Sementara itu, untuk merayakan malam 1 Suro atau tahun baru Hijriah 1 Muharram, masyarakat Yogyakarta juga memilik beragam kegiatan untuk menyambut-nya. Seperti membersihkan benda-benda pusaka milik Kraton hingga grebeg tumpeng dan parade budaya lainnya. Kegiatan penyambutan tahun baru Hijriah yang sudah berlangsung turun-temurun ini, telah menjadi daya tarik turis asing untuk ber wisata di Jogja.

Wah, menarik sekali bukan? selain melestarikan budaya kita juga bisa belajar ke-arifan lokal dan belajar nilai budaya yang ada di negeri kita tercinta, Indonesia Raya.